hujan
menyapa hati yg tengah bimbang
tandusnya hidup begitu nyata
umur yg belia melawan kerasnya dunia
kaki melangkah tanpa alas mencari tujuan
melihat hati ku tersentak
benarkah ini kemiskinan merenggut masa kanak2nya
berjuang ditengah jalan yg sesak
bahaya yg tak tahu akan tiba
mengapa saat kita bisa merasakan kekenyangan
disisi lainnya mengais sisa makanan
butiran nasi begitu berharga
seakan emas yg mereka dapat
melihat dua dunia dari satu mata
berbedakah mereka sehingga dilecehkan
mungkinkah terus terjadi,terpinggirkan
tanpa tahu artinya belajar bersekolah
jam digital
Minggu, 24 Februari 2013
PENGHALANG HIDAYAH
1. Sibuk dengan kenikmatan
lalai untuk mensyukuri.
2. Cinta pada ilmu,
tapi tidak mengamalkannya.
3. Bersegera berbuat dosa
menunda taubat.
4. Bangga bergaul dengan orang shaleh,
tapi tidak mau meneladani perbuatannya
5. Tahu dunia berpaling menjauhi,
tapi mereka berusaha mengejarnya
6. Tahu akherat mendatangi,
tapi mereka justru berpaling menjauhinya.
Ibnul Qayyim rahmahullah…..
HIDUP INI PILIHAN....
Hidup ini
pilihan ,…….
mau mu'min silahkan,
mau kafir juga silahkan,
mau tahajjud silahkan, mau tidur lelap juga silahkan
atau begadang semalam suntuk,
mau jujur silahkan,
mau dusta juga silahkan,
mau makan yg halal silahkan,
mau makan yg haram silahkan,
mau nikah silahkan,
mau berzina silahkan,
mau menutup aurat silahkan,
mau tidak juga silahkan,
mau berbhakti pada orang tua silahkan,
mau durhaka juga silahkan...
tetapi INGAT!.....
Sangat BERBEDA mereka yang BERIMAN
yang sungguh-sungguh TAAT
dengan mereka yang ma'siyat,
semua pilihan perbuatan ada konsekwensinya.
Wasiat Malaikat Jibril kpd Rasulullah yg menjadi wasiat u
umatnya,
"Silahkan engkau berbuat sesukamu,
sesunguhnya engkau akan mendapatkan ganjaran atas perbuatanmu!".
So, JANGAN krn ENAK MA'SIYAT SESAAT
lalu MENDERITA KELAK!...
"Ya Alloh yg Menguasai setiap hati,
tetapkanlah hati kami dalam keni'matan TAAT...aamiin".
BERBALAS PUISI HAMKA & M NATSIR
Meskipun bersilang keris di leher?
Berkilat pedang di hadapan matamu?
Namun yang benar kau sebut juga benar ?
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu?
Hidangkan di atas persada nusa ?
Jibril berdiri sebelah kananmu?
Mikail berdiri sebelah kiri?
Lindungan Ilahi memberimu tenaga?
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu?
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi?
Ini berjuta kawan sepaham ?
Hidup dan mati bersama-sama?
Untuk menuntut Ridha Ilahi?
Dan aku pun masukkan ?
Dalam daftarmu……!
(dikutip dari buku “Mengenang 100 tahun HAMKA”)
Dan sajak berikut merupakan rangkaian
dari sajak berbalas dari M Natsir pada Buya Hamka
yang sebelumnya menyusun sajak untuk M Natsir yang berjudul
“Kepada saudaraku M Natsir”.
Saudaraku Hamka,?
Lama, suaramu tak kudengar lagi?Lama…
Kadang-kadang,?
Di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,?
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,?
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,?
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,
Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam ”Daftar”.?
Tiba-tiba,?
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,?
Rayuan umbuk dan umbai silih berganti,?
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,?
Yang biasa bersenandung itu,?
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.
Aku tersentak,?
Darahku berdebar,?
Air mataku menyenak,?
Girang, diliputi syukur
Pancangkan!?
Pancangkan olehmu, wahai Bilal! ?
Pancangkan Pandji-pandji Kalimah Tauhid,?
Walau karihal kafirun…?
Berjuta kawan sefaham bersiap masuk?
Kedalam ”daftarmu” …
Tempat, 23 Mei 1959
Langganan:
Postingan (Atom)



